Etika kerja: pengembangan, hubungan, pandangan, komponen

Definisi etos kerja
Buka baca cepat

Ethos berasal dari bahasa Yunani yang artinya sikap, kepribadian, watak, watak dan kepercayaan pada sesuatu. Sikap ini bukan hanya milik individu, tetapi juga milik kelompok bahkan masyarakat. Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya dan sistem nilai yang dia yakini. Diketahui juga dari kata ethos bahwa kata etika hampir mendekati pengertian moralitas atau nilai-nilai yang berkaitan dengan moral yang baik dan buruk, sehingga etos mengandung semangat atau semangat yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu secara maksimal, bahkan sesudahnya. berusaha untuk mencapai pekerjaan yang berkualitas. sesempurna mungkin. Dalam al-Qur’an dikenal istilah itqon yang artinya proses kerja yang serius, tepat dan sempurna. Etos kerja seorang muslim adalah semangat untuk menempuh jalan yang lurus, bahkan ketika keputusan diambil, pemimpin harus diamanatkan, terutama para hakim. Hakim yang berlandaskan etos jalan lurus seperti Dawud ketika diminta memutus perkara yang adil dan harus berpijak pada nilai-nilai kebenaran, kemudian mengambil keputusan (hukum) di antara kita secara adil dan tidak menyimpang dari kebenaran dan Point. (memimpin) kita di jalan yang lurus

Karakteristik etos kerja

Etika-kerja-pengembangan-hubungan-pandangan-komponen

Berikut adalah beberapa ciri etos kerja, yaitu:

1. Baik dan bermanfaat

Islam memerintahkan atau menganjurkan hanya pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan sehingga setiap pekerjaan dapat menambah nilai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia baik secara individu maupun kelompok.

2. Stabilitas atau Kesempurnaan

Kualitas pekerjaan yang mantap atau sempurna adalah hakikat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas kerja yang Islami, artinya pekerjaan tersebut mencapai standar teknis yang ideal. Ini membutuhkan dukungan pengetahuan dan keterampilan yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya untuk lebih memperluas atau mengembangkan ilmunya dan mengamalkannya lebih jauh.
3. Kerja keras, ketekunan dan kreativitas

Kerja keras, yang dalam Islam disebut mujahada dalam arti luas ulama, adalah “istifragh ma fil wus’i”, yang bertujuan untuk mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan yang ada untuk mencapai suatu pekerjaan yang baik. Bisa juga diartikan sebagai mobilisasi dan optimalisasi sumber daya. Karena sebenarnya Allah SWT telah menyediakan semua sumber daya yang diperlukan, maka peran manusia sendiri untuk menggerakkan dan memanfaatkannya secara optimal untuk melaksanakan apa yang Allah kehendaki.
4. Bersaing dan bantu

Al-Qur’an menyerukan adanya persaingan kualitas amalan dalam beberapa ayatnya. Pesan persaingan ini kita temukan dalam beberapa ungkapan Alquran yang bersifat “amar” atau perintah, seperti “fastabiqul khairat” (karenanya mereka semua bersaing untuk kebaikan. Karena dasar dari semangat persaingan Islam adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah dan Amal yang adil, Maka wajah persaingan tidak menakutkan untuk saling mengalahkan atau berkorban, melainkan saling membantu (ta’awun).
5. Sasaran (jujur)

Sikap ini dalam Islam disebut Shidiq yang artinya jujur ​​dan selalu membenarkan perkataan, keyakinan dan perbuatan dengan nilai-nilai yang benar dalam Islam. Tidak ada kontradiksi antara kenyataan di lapangan dengan konsep kerja yang ada. Dalam dunia kerja dan kejujuran, upaya ditunjukkan dalam bentuk keseriusan dan ketelitian, baik ketepatan waktu maupun janji, pelayanan yang mengakui bahwa kekurangan dan kekurangan tersebut terus dikoreksi dan menjauhi kebohongan atau penipuan.
5. Disiplin atau konsistensi

Selain itu disebut berkaitan dengan ciri etos kerja yang tinggi dalam kaitannya dengan sikap moral yaitu disiplin dan konsistensi, atau dalam Islam Amanah. Sikap bertanggung jawab terhadap kepercayaan merupakan salah satu bentuk moralitas sosial secara umum dalam konteks dunia kerja.
Pengembangan etos kerja

Studi sosiologis dan manajemen selama beberapa dekade terakhir mengarah pada kesimpulan yang menghubungkan etos kerja masyarakat (atau komunitas) dengan kesuksesan mereka: Keberhasilan di berbagai bidang kehidupan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan nilai-nilai yang diadopsi oleh individu manusia di komunitas atau konteks sosial. Dengan menelaah ciri-ciri masyarakat di negara yang dianggap unggul, peneliti menyusun daftar ciri-ciri etos kerja yang penting. Misalnya, etos kerja Bushido dipandang sebagai faktor utama keberhasilan ekonomi Jepang di kancah dunia. Etika kerja Bushido ini mengangkat tujuh prinsip:

 

 

LIHAT JUGA:

 

https://memphisthemusical.com/
https://officialjimbreuer.com/
https://timeisillmatic.com/
https://votizen.com/
https://boutiquevestibule.com/
https://ariatemplates.com/
https://worldbeforeher.com/
https://thinknext.net/
https://bootb.com/
https://excite.co.id/